Thursday, January 19, 2006

Rainbow Food (8)


Boks 4:


Sovita Handriany (27 tahun)
Akuntan, ibu dari Darren (6 bulan)

"Tubuh Darren Jadi 'Bersih'"

Saya terbiasa menerapkan pola makan vegetarian jenis lakto-ovo sejak sebelum hamil. Saya pelajari betul apa saja zat nutrisi yang dibutuhkan janin selama dalam kandungan dan selama masa pertumbuhan. Misalnya, untuk tumbuh kembang otak bayi, dibutuhkan asam lemak esensial dan asam amino. Sebagai ganti dari makanan hewani, saya mengonsumsi kacang-kacangan yang saya rendam dahulu selama 8 jam. Tujuannya agar kadar kolesterolnya turun, sementara kandungan asam aminonya tetap tinggi.

Dalam menerapkan pola makan berdasarkan warna, untuk warna putih misalnya, saya memberi anak saya beras dalam bentuk nasi. Untuk warna merah, saya berikan antara lain bit dan aneka jenis buah-buahan. Sedangkan warna hijau dari sayur-sayuran.
Sampai saat ini, pertumbuhan Darren baik. Dia tumbuh sehat. Karena menjalankan pola makan vegetarian, sejak lahir kulit Darren selalu tampak bersih.

Rainbow Food (7)




Boks 3:
Ersamayori Aurorar (26 tahun) Presenter, ibu dari Aiska Vairana (1 tahun)

“Saya Hentikan karena Pilihannya Sedikit”

Sesuai dengan diet berdasarkan golongan darah atau blood type diet yang saya terapkan pada Aiska yang bergolongan darah AB, saya dianjurkan menghindari ayam dan daging sapi. Untuk buah-buahan, yang dianjurkan adalah apricot dan raspberry, dan sebaiknya dihindari anggur, pisang, jeruk, dan avokad.

Suatu ketika, saat Aiska berumur 8 bulan, muncul gejala alergi terhadap susu sapi. Dia sering batuk, banyak riak di tenggorokannya, dan pipinya terasa kasar dan merah-merah. Dokter yang memeriksanya kemudian menyarankan untuk berpantang beberapa jenis makanan sehingga saya merasa pilihan jenis makanan untuk Aiska jadi sempit. Terpaksa, pola makan berdasarkan golongan darah ini saya hentikan. Padahal, rencananya saya ingin menerapkannya sampai ia berusia setahun. Walau begitu, paling tidak, pola makannya sudah terbentuk karena diterapkan sejak dini.

Rainbow Food (6)



Boks 2:

PANDUAN PEMBERIAN MAKAN ANAK

  • Mulailah memperkenalkan jenis makanan baru saat si kecil dalam keadaan sehat.
  • Perkenalkan makanan dalam bentuk makanan tunggal. Jangan dicampur atau diblender menjadi satu. Sebab, si kecil jadi tidak bisa mengenali rasa asli masing-masing bahan makanan yang diberikan.
  • Berilah makanan dalam porsi secukupnya.
  • Mulailah perkenalkan makanan tepat waktu, yaitu sesuai tahap perkembangan sistem pencernaannya. Bila terlalu awal, menyebabkan gangguan pencernaan. Sebaliknya, bila terlambat, akan menghambat perkembangan keterampilan makannya.
  • Usahakan memberi makanan yang segar.
  • Waspada terhadap kemungkinan timbulnya reaksi alergi, sekalipun Anda maupun pasangan tidak alergi terhadap jenis makanan tersebut.

Rainbow Food (5)



Boks 1:

ANEKA POLA MAKAN
Pola makan berdasarkan jenis golongan darah (blood type diet), yang dikembangkan Peter J. D’Adamo, ND dalam bukunya Eat Right For Your Type yang diterbitkan tahun 1996.

Golongan darah A, disarankan menghindari daging, lemak hewani, dan produk olahan susu, karena rentan terhadap penyakit kardiovaksular, diabetes, dan kanker. Yang baik untuk dikonsumsi, sayuran dan buah-buahan

Golongan darah B, disarankan menghindari daging ayam. Menjaga keseimbangan konsumsi makanan hewani dan nabati, yakni antara sayuran dan buah dengan ikan, daging, dan telur.

Golongan darah AB
, disarankan cukup sesekali mengonsumsi ikan, daging sapi (tidak daging ayam), dan susu serta produk olahannya. Sebaiknya menerapkan pola makan vegetarian

Golongan darah O, disarankan banyak mengonsumsi makanan yang kaya protein, rendah kalori, dan sayuran serta buah-buahan. Batasi konsumsi serealia, jagung, susu dan produk olahannya, serta kacang-kacangan.

• Pola makan berdasarkan warna pelangi
(rainbow diet) yang dikembangkan oleh Dr. Gabriel Cousens, M.D., dalam bukunya Spiritual Nutrition and the Rainbow Diet terbitan tahun 1987. Dengan menggunakan teknologi Vascular Autonomic Signal diketahui bahwa setiap pusat energi utama tubuh (cakra) yang berjumlah 7, bereaksi terhadap makanan dengan warna yang sama dengan warna masing-masing cakra. Reaksinya berupa reaksi mengaktifkan, menyembuhkan, dan menyeimbangkan energi dan fungsi kerja organ-organ tubuh yang diatur oleh masing-masing cakra.

• Pola makan vegetarian, adalah pola makan yang hanya mengonsumsi jenis makanan nabati, terutama sayuran dan buah-buahan.
Ada 3 jenis vegetarian, yakni: vegan vegetarian (hanya mengonsumsi sayuran dan buah); lakto-ovo vegetarian (mengonsumsi susu dan telur selain sayuran dan buah); dan lakto vegetarian (mengonsumsi susu sebagai tambahan menu sayuran dan buah)

• Pola makan food combining, pertama kali diperkenalkan oleh Dr. William Howard pada awal abad ke-2. Dasarnya adalah memisahkan konsumsi jenis-jenis makanan tertentu, pada waktu yang berbeda. Misalnya, jangan mengonsumsi tomat bersamaan dengan kentang. Sebab, asam yang terkandung di dalam tomat akan mengganggu suasana basa yang dibutuhkan oleh enzim ptialin untuk bekerja menguraikan karbohidrat di dalam kentang, sehingga dapat diserap dengan baik oleh usus.

Rainbow Food (4)




INI PRINSIPNYA

Bagi Anda yang berencana memperkenalkan atau menerapkan pola makan tertentu pada si kecil, dr. Aryono mengingatkan, “Pilihlah jenis pola makan berprinsip diet seimbang. Artinya, setiap zat nutrisi diberikan sesuai kebutuhan tubuh si kecil.” Seimbang bukan berarti masing-masing komponen zat nutrisi diberikan dengan komposisi sebesar 20%, melainkan
dengan komposisi karbohidrat 50-60%, protein 15-20%, lemak 20-30%, dan selebihnya adalah vitamin dan mineral (simak boks: Panduan Pemberian Makan Anak).

Tentang alergi pada anak, dokter yang memperdalam bidang Peadiatric Nutrition di
Emma Children Hospital Academic Medical Center, Amsterdam, Belanda, tahun 1999-2000 ini, menyarankan, “Angka kejadian alergi pada anak, sekarang ini cenderung meningkat. Jadi, kalau mau mengenalkan makanan pada anak, pilihlah jenis makanan yang diketahui sangat kecil kemungkinannya menimbulkan alergi!” Sebagai tambahan, dr. Amarullah mengingatkan, “Jangan memberi makan dengan mengikuti apa yang diinginkan anak, tapi berilah apa yang dibutuhkan oleh tubuhnya! Eat what you need, not what you want!

Rainbow Food (3)




PENTINGNYA VARIASI MAKANAN

Kebanyakan dari kita tidak menyadari bahwa setiap saat sesungguhnya kita dihidupi oleh energi cahaya melalui berbagai cara. Salah satunya melalui makanan. Melalui proses pencernaan, makanan diuraikan menjadi unsur-unsur terkecil dari komponen pembentuknya, lalu diubah menjadi energi yang dapat dimanfaatkan oleh setiap sel tubuh kita.

Energi yang menghidupi kita berasal dari satu energi cahaya berwarna putih, yang bila diuraikan terbagi menjadi 7 warna (merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu, seperti warna pelangi).
Lebih jauh tentang energi ini, dr. Amarullah yang memperoleh gelar M.Sc, dalam bidang Health Care dari University of Wales, Inggris, menjabarkan, “Secara ayurvedic atau energi kesehatan, memang dikenal adanya 7 pusat energi utama di dalam tubuh kita, yaitu yang dikenal dengan nama cakra. Masing-masing cakra mengontrol fungsi kerja beberapa organ tubuh tertentu. Memang, pusat-pusat energi tubuh ini tidak terlihat oleh mata telanjang. Nah, zat nutrisi dari makanan yang kita makan, sebenarnya adalah untuk membangun dan mempertahankan pusat-pusat energi di dalam tubuh itu. Inilah dasar dari color theraphy with food.”

Lebih lanjut dr. Amarullah memberikan gambaran mengenai manfaat kandungan senyawa fitokimia yang memberikan warna terhadap jenis sayuran atau buah tertentu. Katanya, “Buah atau sayuran berwarna merah seperti tomat, mengandung banyak zat warna antosianin, yang dapat meningkatkan kapasitas antibodi dalam melawan antioksidan. Buah yang berwarna oranye atau kuning, tinggi kandungan karoten dan luteinnya. Kedua senyawa ini membantu meningkatkan sistem kekebalan dan proses regenerasi sel. Sementara sayuran hijau, banyak mengandung zat warna klorofil yang membantu tubuh mencegah terjadinya pertumbuhan tidak normal dari sel-sel tubuh, yang menjadi pencetus timbulnya kanker atau tumor.”


Itu sebabnya, baik dr. Amarullah dan dr. Aryono sama-sama menegaskan agar dalam menerapkan pola makan kepada si kecil, berilah variasi makanan seluas-luasnya. Termasuk, sayuran dan buah-buahan yang berwarna-warni. Variasi dalam pola makan si kecil itu adalah untuk menjaga kelangsungan kerja seluruh sel tubuh, termasuk sel-sel otak.
Selain itu, menurut dr. Amarullah, “Kebiasaan itu akan melatih fungsi kerja sistem pencernaan anak, khususnya mengaktifkan enzim-enzim di dalam perutnya supaya mampu menguraikan beraneka jenis makanan. Kalau tidak dilakukan sejak dini, sistem pencernaannya jadi tidak kenal dan tidak terlatih menguraikan zat-zat yang ada di dalam suatu jenis makanan. Jadi, ada bagian dari sistem yang menganggur. Inilah yang kemudian muncul sebagai gejala intoleransi.”

Rainbow Food (2)




PILIH POLA YANG SESUAI

Pola makan berdasarkan golongan darah, dikenal Ersamayori Aurora, sejak anaknya belum lahir. “Saya pernah membaca di salah satu buku tentang pola makan berdasarkan golongan darah yang dikembangkan seorang dokter. Waktu itu saya pikir, bagus juga kalau pola makan tersebut diterapkan pada anak saya kalau sudah lahir,” tutur presenter dan ibu satu anak ini.

Lain Ersa lain pula pengalaman Sovita Handriany, akuntan dan ibu satu anak tentang perkenalannya dengan pola makan vegetarian yang ia terapkan sendiri, lalu pada anaknya, hingga sekarang. Katanya, “Sejak belum hamil sampai sekarang, saya memilih pola makan vegetarian, jenis lakto-ovo, karena saya tetap mengonsumsi susu dan telur. Pola makan ini saya terapkan juga pada anak saya. Selain itu, saya juga menerapkan pola makan berdasarkan warna. Pola makan ini juga bagus, karena kalau kita memenuhi semua warna yang dibutuhkan tubuh, tubuh kita sehat.”


Pola makan manakah yang sebenarnya baik untuk si kecil? Dr. Amarullah berpendapat, “Pola makan berdasarkan golongan darah sangat saya anjurkan, bahkan kalau memungkinkan bisa diterapkan sedini mungkin. Awalnya, dengan mengenali kemampuan kerja fungsi tubuh anak sedini mungkin. Karena, ada anak yang kalau diberi susu sapi alergi, diberi telur mencret, sementara anak lain baik-baik saja.”

Ia pun memberikan contoh, “Untuk anak bergolongan darah A, misalnya, fungsi metabolisma tubuhnya lebih cocok dengan jenis makanan nabati. Kalau dipaksakan diberi makanan yang banyak berasal dari hewani, fungsi metabolismanya menjadi terbebani.” Namun Amarullah mengatakan, untuk mengetahui makanan yang cocok untuk bayi memang sulit. “Paling tidak, setelah selesai diberi ASI eksklusif, mulailah mengenalkan makanan padanya sesuai karakter dan fungsi metabolisma tubuhnya, alias berdasarkan golongan darahnya.”


Coba simak pengalaman Ersa. “Sejak usia 4 bulan, Aiska mulai saya beri makanan tambahan. Karena golongan darahnya AB, yang memiliki kecenderungan menderita diabetes, saya memilihkan semua jenis makanan yang tidak terlalu manis. Selama menjalankan pola makan ini, pertumbuhan dan perkembangan Aiska dinyatakan dokter baik. Tapi, waktu Aiska umur 8 bulan, dia ketahuan alergi susu sapi. Selanjutnya, pola makan yang saya terapkan terutama untuk mengatasi masalah alerginya.”


Tentang pola makan rainbow diet, dr. Amarullah menuturkan, “Dasar diet ini adalah color theraphy with food, dan fungsinya bisa macam-macam. Misalnya, untuk orang yang cenderung berwatak pemarah jangan banyak mengonsumsi makanan yang berwarna
merah. Atau, orang yang mudah tersinggung, jangan banyak makan makanan yang berwarna biru. Selain itu, perlu pula membedakan fungsinya.

“Kalau untuk membangun sistem kekebalan tubuh, harus dibedakan dengan mengobati suatu penyakit. Sebagai contoh, kalau dalam family tree seorang anak ada kecenderungan menderita kanker, maka pola makannya sebaiknya didominasi oleh makanan yang berwarna hijau. Atau, kalau ada riwayat jantung koroner, maka makanannya sebaiknya didominasi oleh warna
merah,” ungkap dr. Amarullah. Hal ini karena jantung koroner itu gangguan yang berkaitan dengan darah sehingga mesti di-energize dengan warna yang terganggu itu. “Lain lagi kalau tujuannya untuk menjaga kondisi kesehatan anak. Beri ia makanan dengan semua jenis warna. Ya, rainbow diet itu! Jadi, jangan memberikan atau membiarkan anak memilih makanan yang warnanya hijau saja, atau merah saja,” kata dokter lulusan Clayton College of Natural Health, Birmingham, Amerika Serikat dalam program doktoral di bidang Naturopati ini.

Rainbow Food (1)


TREN DIET ANAK



Catatan:
Tahun lalu aku pernah dapat tugas untuk menulis artikel utama dengan tema TREN DIET ANAK, sebagai suatu tanggapan atas merebaknya 1001 macam cara diet yang dikenal di seluruh dunia. Di Indonesia, salah satu cara diet yang sempat menimbulkan kontroversi adalah FOOD COMBINING yang dipelopori dan dimasyarakatkan oleh ANDANG GUNAWAN.

Sebetulnya, tidak ada yang "aneh" atau "baru" dalam semua jenis cara diet yang ada. Karena pada prinsipnya itu hanya "perbedaan" dalam cara untuk MENGONSUMSI TUJUH WARNA PELANGI, dalam bentuk energi cahaya. Bagi mereka yang sudah memahami apa sesungguhnya yang ada di balik WARNA PELANGI itu, seperti yang diungkapkan dengan indah dalam syair lagu SOMEWHERE OVER THE RAINBOW, kita sebetulnya tidak perlu "pusing" atau pun "bingung" dengan pilihan tren diet seseorang. Karena apa pun makanan dan minuman yang kita makan, terutama yang berasal dari sayuran dan buah-buahan, sebetulnya kita "makan" bagian-bagian dari CAHAYA "SEJATI"... ENERGI CAHAYA penggerak roda kehidupan di seluruh alam semesta ini. (Ya khan?!)

Sekarang ini bermunculan aneka jenis tren diet (aturan makan khusus), bahkan untuk bayi dan balita. Mana yang pas Anda terapkan pada si buah hati?
"

Let food be thy medicine and let thy medicine be thy food"
Hippocrates, Bapak Ilmu Kedokteran (460-377 SM)

Selama ini diet atau aturan pemberian makan kepada anak yang kita kenal adalah “4 sehat 5 sempurna”. Menurut dr. Aryono Hendarto, SpA(K), dokter spesialis anak dari Divisi Nutrisi dan Penyakit Metabolik, FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta, “Slogan 4 sehat 5 sempurna kini diganti menjadi pola makan seimbang atau diet seimbang.”


Pada kenyataannya, pola makan anak yang berkembang di masyarakat tak melulu berdasarkan 4 sehat 5 sempurna maupun pola makan bergizi seimbang. Ada berbagai jenis pola makan lain yang cukup dikenal masyarakat di dunia. Pola makan mana yang Anda terapkan pada anak Anda? Untuk itu jangan Anda lupa bahwa setiap anak itu unik, termasuk fungsi kerja sistem fisiologi tubuhnya. Anda mesti memilih pola makan yang sesuai bagi si kecil.


BERAGAM POLA MAKAN

Sejak masih berbentuk janin di dalam rahim, si kecil butuh semua jenis zat nutrisi yang diperlukan secara kontinyu agar proses kehidupan dan tumbuh-kembangnya berlangsung optimal. Kebutuhan zat nutrisi itu diperoleh janin melalui menu makanan yang dikonsumsi ibunya.
Setelah lahir, dalam 6 bulan pertama kehidupannya, kebutuhan zat nutrisi bayi diperoleh dari air susu ibu (ASI). Selanjutnya, setelah sistem pencernaan si kecil mulai berfungsi sempurna, ia bisa diperkenalkan dengan aneka makanan selain ASI.

Tentu saja, makanan pendamping ASI tersebut harus sesuai dengan usia dan tahapan perkembangan keterampilan makan anak.
Pada tahap ini, orang tua ingin memberikan makanan yang terbaik bagi buah hatinya. Mereka pun mencari tahu, lantas mencoba satu pola makan tertentu pada anaknya. Misalnya saja, blood type diet (pola makan berdasarkan golongan darah), rainbow diet (berdasar warna pelangi, diet pelangi), vegetarian, atau food combining (lihat boks: Aneka Pola Makan). Menanggapi beragam pola makan yang ada, dr. Amarullah H. Siregar, DIHom, DNMed, MA, MSc, PhD, anggota International Foundation for Homeopathy, Seattle, Amerika Serikat, berpendapat, “Pola makan berdasarkan golongan darah yang dikembangkan oleh D’Adamo merupakan penyesuaian terhadap kondisi atau karakter dari fungsi metabolisma seseorang. Pola ini bertujuan menyelaraskan antara jenis makanan yang dikonsumsi dengan karakter metabolisma seseorang. Selanjutnya, dikembangkan menjadi apa yang dikenal sebagai food combining. Tapi, dalam food combining ada pembatasan. Ini tidak boleh diterapkan untuk pola makan anak.”

Bagaimana dengan Rainbow Diet? “Rainbow Diet itu dasarnya adalah pola makan yang disesuaikan karakter atau kepribadian seseorang,” jawab dokter yang mendalami naturopati di Galien University, London, Inggris ini. Bagi dr. Aryono, yang kini menjabat Sekretaris IDAI Jaya, “Kalau ada yang disebut diet pelangi atau diet yang dikaitkan dengan golongan darah seseorang, sejauh tetap menganut prinsip-prinsip diet seimbang, tidak masalah.” Tapi, tidak demikian pendapat dr. Aryono terhadap pola makan food combining. “Dari sudut ilmu nutrisi, food combining menjauhi dasar-dasar metabolisma yang normal. Tubuh membutuhkan zat-zat nutrisi dalam waktu bersamaan secara serempak. Jadi, tidak bisa kalau kemudian disarankan pagi cukup mengonsumsi karbohidrat, siang baru makan protein, dan malam baru makan lemak. Tidak bisa begitu,” katanya.


Yuk, Bernapas Yang "Benar!" (3)

Ada beberapa posisi yang dapat Anda pilih. Yakni:
• Posisi berbaring (tiduran) telentang
Ini merupakan posisi yang dapat Anda pilih bila kehamilan Anda belum terlalu besar. Agar lebih nyaman, Anda dapat menambahkan bantal untuk mengganjal kepala dan kaki.
• Posisi berbaring menyamping
Ini merupakan posisi yang nyaman bila usia kehamilan Anda sudah masuk trimester ke-3. Anda dapat menambahkan bantal untuk mengganjal paha Anda.

Latihan:
- Sambil berbaring telentang maupun menyamping, niatkan agar seluruh tubuh Anda mencapai kondisi rileks yang dalam
- Perlahan-lahan, pejamkan kedua mata Anda
- Pusatkan perhatian dan pikiran Anda pada napas Anda yang ke luar-masuk. Biarkan tubuh Anda bernapas secara alami. Jangan mengatur napas Anda dengan sengaja
- Ketika Anda menarik napas, latihlah untuk menahannya beberapa saat. Caranya, bisa dengan menghitung, misalnya sampai 5 hitungan. Anda dapat berlatih untuk menahan napas, dengan meningkatkan jumlah hitungan secara bertahap, sesuai kemampuan Anda.

• Posisi duduk di kursi
Sebelum berlatih, lakukanlah pemanasan untuk mengendurkan otot-otot yang tegang di daerah bahu, leher, dan kepala. Juga, sebagai persiapan fisik untuk rongga dada sebelum berlatih napas. Caranya sebagai berikut:
- Putarlah kepala secara perlahan-lahan ke salah satu arah. Kemudian, putarlah ke arah yang berlawanan
- Setelah kepala, leher, dan bahu Anda terasa cukup rileks, niatkan untuk melakukan relaksasi pada seluruh tubuh Anda
- Sambil menarik napas yang dalam, kepalkan kedua telapak tangan dengan kuat sehingga tubuh Anda menjadi tegang atau kaku. Tahan beberapa saat, kemudian lepaskan kepalan sambil menggerakkan kedua lengan ke atas, dan hembuskan napas.
- Setelah itu, kembali kepalkan kedua telapak tangan sambil menarik napas dalam. Tahan beberapa saat, sesuai kemampuan Anda. Lalu, hembuskan napas melalui mulut sambil kedua lengan diturunkan dan “jatuh” di atas paha Anda.
- Setelah Anda sudah terbiasa atau cukup terlatih, Anda dapat melakukan latihan napas ini sambil menonton TV, atau sambil bercanda dengan janin Anda melalui berbagai macam sentuhan.

• Posisi duduk bersila
Ini merupakan latihan untuk relaksasi pikiran. Salah satu indera yang dapat dilatih untuk menenangkan pikiran adalah mata. Untuk itu, mata dilatih untuk “tenang” dengan memberinya satu “mainan” sebagai pusat perhatian, misalnya nyala lilin atau bunga. Dengan melatih mata untuk terus menerus memusatkan perhatian pada “mainan”, secara bertahap frekuensi gelombang otak akan melambat hingga mencapai kondisi “tenang” (alpha state).
- Latihan bernapas yang Anda lakukan sama dengan latihan dengan posisi berbaring maupun duduk. Hanya saja, kali ini dilakukan dengan mata terbuka sambil memusatkan pada satu titik perhatian. Anda dapat memulai latihan kalau Anda sudah cukup terlatih untuk bernapas dengan tenang dan “benar.”
- Latihan bernapas cara lain yang dapat Anda lakukan sambil duduk bersila adalah dengan meletakkan telapak tangan di atas perut. Ini merupakan relaksasi lanjutan untuk melatih agar dapat bernapas dengan tenang dalam setiap denyut kehidupan. Cara ini juga sebagai bentuk komunikasi Anda dengan janin Anda melalui sentuhan yang penuh cinta dan kasih sayang. Sambil bernapas, cobalah rasakan irama denyut jatung Anda, dan juga irama napas Anda. Itulah napas kehidupan Anda.

Kehamilan dan persalinan jadi “nyaman”
Rahim Anda terdiri dari 3 lapis otot. Lapisan pertama, merupakan otot yang dapat memanjang dan memendek, yang kelak bertugas mendorong janin Anda ke jalan lahir sampai melewati lubang vagina. Lapisan kedua, merupakan otot pengontrol aliran darah ke janin. Dan lapisan ketiga, merupakan otot paling dalam yang menjaga agar jalan lahir terbuka.
Pada keadaan “tenang” dan rileks, ketiga lapis otot tersebut akan bekerja secara harmonis sesuai fungsinya masing-masing. Namun, bila Anda panik dan tidak tenang karena merasakan nyeri akibat kontraksi, ketiga lapisan otot ini menjadi saling berlawanan kerjanya. Akibatnya, jalan lahir akan menjadi tertutup sehingga akan mempersulit proses persalinan. Jadi, jelas bukan, mengapa Anda perlu melatih diri untuk dapat menjaga agar selalu dalam keadaan “tenang,” baik pikiran maupun jiwa atau perasaan.

Kemampuan atau keterampilan untuk menjaga agar selalu dalam keadaan “tenang” ini, akan memungkinkan Anda untuk mengontrol napas. Umumnya, bila kontraksi sudah semakin sering muncul, napas menjadi cepat sehingga si ibu hamil tersengal-sengal. Dengan kemampuan untuk menjaga ketenangan diri, sekali pun rasa nyeri saat kontraksi mulai muncul, Anda tetap mampu bernapas dengan “benar,” yakni dengan tenang dan panjang.
Kondisi tenang yang sangat dalam (delta state), tubuh Anda dengan sendirinya akan mengeluarkan hormon endorphin, sehingga rasa sakit akan sangat jauh berkurang. Keadaan tenang ini juga akan menghemat energi Anda, sehingga kelak energi Anda dapat digunakan untuk mengejan. Sehingga, seluruh masa kehamilan dan juga proses kehamilan akan dapat Anda jalani dan lalui dengan lancar, dengan hanya merasakan “sedikit” rasa sakit.

Sri Lestariningsih
Konsultasi ilmiah: Lanny P. Kuswandi, bidan dan fasilitator program stress management di klinik Prorevital

Yuk, Bernapas Yang "Benar!" (2)

Kuncinya, relaksasi
Untuk melatih diri agar dapat mencapai kondisi tenang atau biasa disebut juga sebagai kondisi alfa (alpha state), Anda dapat memulainya dengan berlatih relaksasi. Sebab, dasar dari seluruh teknik bernapas yang “benar” adalah relaksasi. Sementara relaksasi itu sendiri diawali dengan memberikan autosugesti atau afirmasi positif kepada diri sendiri.

Kenapa harus dibantu dengan sugesti atau afirmasi positif? Salah satu alasannya dijelaskan dalam buku “Better Birthing with Hypnosis” karangan Michelle Leclaire O’Neill, Ph.D., R.N. Yakni, karena pikiran kita selalu “sibuk” menerima, mengolah, dan memberikan sugesti atau rangsang yang diperoleh baik dari luar maupun dari dalam tubuh. Dan sugesti itu bisa positif, bisa pula negatif.
Sugesti atau afirmasi positif yang sengaja diberikan ini, bertujuan untuk menggantikan sugesti negatif yang kebetulan masuk ke dalam pikiran kita.

Satu hal penting yang perlu Anda ingat, yaitu pikiran, jiwa, dan tubuh Anda adalah satu kesatuan yang saling terkait. Jadi, apabila pikiran Anda terus menerus diberi afirmasi yang positif, jiwa atau perasaan Anda juga akan menjadi positif atau tenang. Sehingga rasa cemas, khawatir, dan takut akan berganti menjadi perasaan tenang dan bahagia dalam menjalani masa kehamilan serta menghadapi proses persalinan kelak.

Setelah pikiran dan jiwa Anda “tenang”, maka seluruh metabolisma di dalam tubuh pun akan berjalan dengan “tenang.” Kondisi pikiran yang “tenang” dan jiwa yang “tenang” inilah yang menjadi tujuan yang diharapkan dapat dicapai dari latihan bernapas dengan “benar.” Sebab, dalam keadaan rileks, tubuh Anda akan “tahu” bagaimana bernapas dengan “benar.” Juga, dengan kondisi pikiran, jiwa, dan tubuh yang “tenang” Anda akan siap dan tetap “tenang” menghadapi berbagai situasi maupun perubahan yang terjadi selama masa kehamilan maupun persalinan.

Salah satu tanda bahwa pikiran, jiwa, dan tubuh Anda sudah “tenang” adalah ketika Anda mulai menikmati ketenangan yang menyeluruh ini, tanpa disadari sebuah senyum kecil akan tersungging di bibir Anda. Juga, mungkin Anda akan menitikkan air mata sebagai ungkapan kebahagiaan yang tengah Anda rasakan. Inilah tanda bahwa Anda sudah dapat berdamai dengan diri sendiri, alias rela, ikhlas, dan pasrah menerima keadaan yang terjadi pada diri Anda apa adanya.

Yuk, berlatih!
Teknik bernapas dengan “benar” sebenarnya dapat Anda latih kapan saja dan di mana saja. Namun, untuk permulaan, sebaiknya Anda membiasakan dulu dengan berlatih sesuai teknik dasar. Untuk mempermudah Anda “masuk” pada kondisi ketenangan yang dalam (alpha state), ciptakanlah suasana yang nyaman dan tenang di ruangan tempat Anda berlatih. Penerangan sebaiknya diatur agar temaram (redup). Boleh juga Anda putar musik berirama lembut dan tenang, atau musik khusus untuk relaksasi yang banyak terdapat di pasaran. Sebagai pelengkap, boleh saja Anda tambahkan pengharum ruangan alami dari rempah-rempah (aromaterapi). Nah, kini Anda siap untuk berlatih.

Yuk, Bernapas Yang "Benar!" (1)

Catatan:
Artikel ini aku tulis tahun 2005 untuk rubrik "Seri Kehamilan" di majalah Ayahbunda edisi No 10. Pada saat aku menulis ini, aku sedang mengikuti kelas Tafakur, yang berlangsung selama 7 kali pertemuan. Materi yang diajarkan oleh "GURU 1111" pada pelajaran Tafakur ini adalah "menjinakkan" pikiran liar agar mampu dipusatkan hanya pada satu titik CAHAYA saja.

Inilah ternyata yang sejak kecil sudah kekenal dengan istilah OLAH RASA DI DALAM RASA, sampai aku mampu mencapai keadaan "suwung" alias melebur dan menjadi satu dengan seluruh alam semesta. Dan ini pulalah yang sudah "biasa" aku lakukan setelah belajar meditasi di BALI USADA, dengan dibimbing Pak Darmawan, kemudian aku lanjutkan dengan mengikuti TAPA BRATA bersama Pak Merta Ada langsung. Dari pelajaran meditasi di Bali Usada aku memperoleh teori dasar tentang MAKNA BERNAPAS. Dan kini, melalui "GURU 1111" aku memperoleh pemahaman dan makna yang jauh lebih mendalam. Jadi, artikel ini merupakan "gambaran" dari perjalanan spiritual yang sedang aku tempuh pada saat aku menuliskannya...


“Keterampilan” bernapas yang efektif, akan sangat membantu saat kontraksi mulai datang, dan juga saat mengejan. Tapi, “ketrampilan” ini perlu dilatih!

Dalam buku “HypnoBirthing, A Celebration of Life” karangan Marie F. Mongan, M.Ed., M.Hy. disebutkan, oksigen merupakan “bahan bakar” paling penting bagi otot-otot di seluruh tubuh kita agar dapat bekerja dengan baik. Bagi Anda, ibu hamil, otot tubuh yang membutuhkan banyak “bahan bakar” saat ini adalah otot-otot rahim. Sementara bagi janin Anda, oksigen sangat diperlukan sebagai “bahan bakar” untuk seluruh sel tubuhnya agar dapat melakukan proses tumbuh-kembang dengan optimal.

Oksigen yang kita hirup akan optimal apabila kita bernapas dengan “benar.” Yakni, bernapas dengan tenang, teratur, dalam, lembut, serta jarak waktu antara satu tarikan napas dengan tarikan napas berikutnya cukup panjang. Bernapas dengan benar juga akan membantu Anda “melepaskan” rasa cemas maupun stress yang biasanya cukup “akrab” dengan para ibu hamil, terutama yang baru hamil pertama kali.

Dan yang terpenting, bila Anda terlatih bernapas dengan benar, kelak Anda akan piawai memanipulasi rasa nyeri saat kontraksi mulai muncul, dengan pikiran “tenang” Anda. Sehingga kontraksi tidak lagi terasa sebagai suatu rasa sakit yang “menyiksa.” Jadi, yuk mulai berlatih!

Berawal dari ketenangan
Hampir semua ibu hamil pikirannya selalu “sibuk” dengan berbagai hal yang memenuhi benaknya, sehingga kemudian mempengaruhi perasaannya. Hal yang kerap membuat pikiran ibu hamil “sibuk” adalah sederet pertanyaan berkaitan dengan apa yang sedang dan akan terjadi pada dirinya serta janinnya, selama masa kehamilan hingga saat persalinan tiba. Pertanyaan-pertanyaan itu kemudian akan memunculkan perasaan cemas, khawatir, dan takut. Ini tidak hanya dialami oleh mereka yang baru pertama kali hamil, tetapi juga oleh mereka yang sudah berpengalaman hamil dan melahirkan.

Pikiran yang tidak tenang alias “sibuk” ini, akan memicu dan memacu kecepatan jalannya berbagai proses metabolisma di dalam tubuh, termasuk proses bernapas. Sehingga, proses metabolisma berlangsung dengan kecepatan yang lebih tinggi dari yang seharusnya. Bukan berjalan sesuai kecepatan yang normal atau alami. Keadaan ini mengakibatkan terjadinya pemborosan energi!

Sebaliknya, apabila kita bernapas dengan “benar”, maka tubuh akan menggunakan energi dengan porsi yang pas (tidak berlebihan) untuk melakukan berbagai proses penunjang kehidupan. Itu artinya, tubuh kita menggunakan energi secara efisien dan efektif. Dan dengan begitu, otot rahim Anda juga akan mampu memberikan fasilitas memadai yang diperlukan oleh janin Anda selama masa kehamilan karena aliran oksigen yang dibawa oleh darah berjalan lancar.

Namun pada kenyataannya, sebagian besar orang belum bernapas dengan benar! Dan bukan tidak mungkin termasuk Anda. Nah, untuk dapat bernapas dengan benar, hal pertama yang harus Anda latih adalah ketrampilan dalam “menjinakkan” pikiran agar tenang!

Friday, January 06, 2006

MEMILIH DOKTER ANAK (4)

Dr. Broto Wasisto, DTM&H, MPH, “Orang tua anak berhak mendapatkan informasi tentang cara-cara pemeriksaan yang dilakukan dokter anak terhadap anaknya.”

Dr. Purnamawati S. Pujiarto, SpAK, MMPaed,”Dokter anak merupakan mitra orang tua dalam membesarkan dan mengasuh anaknya.”

Boks 1:
“Definisi” dokter yang baik…
Dr. Broto Wasisto yang pernah menjabat sebagai anggota Dewan Eksekutif WHO di Geneva, Swiss, dari tahun 1995 sampai 1998 ini mengingatkan Anda, untuk juga mempertimbangkan sejumlah kriteria berikut ini dalam memilih dokter anak bagi buah hati Anda. “Kriteria-kriteria ini semuanya tercakup dalam profesionalisme seorang dokter.”
• Memiliki pengetahuan yang baik. Tentunya diperoleh dari pendidikan yang baik di sekolah yang baik pula. Informasi tentang track record dokter-dokter anggota IDI dapat diperoleh di buku panduan. Termasuk juga data tentang dokter anak.
• Punya kompetensi untuk menerapkan ilmunya. Kalau dia seorang dokter anak, maka dia mampu dan kompeten untuk menerapkan ilmunya dengan baik.
• Memiliki perilaku yang etis. Yakni, perilaku yang mengikuti tatanan atau norma dalam menerapkan ilmunya. Contohnya, dokter anak tidak boleh merokok di depan pasiennya.
• Altruistik. Yakni, memiliki sikap lebih mementingkan kepentingan orang lain dibandingkan kepentingannya sendiri.
• Anggota organisasi ikatan profesi. Dalam hal ini, dokter anak tersebut terdaftar sebagai anggota IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia). Untuk wilayah Jakarta, misalnya, IDAI Jaya.

Boks 2:
Fifi Aleyda Yahya (32 tahun), presenter, ibu dari 2 anak

“Kita juga harus proaktif!”
Selain mempercayakan penanganan kesehatan anak-anak saya, Alisha Zahra Saadiya (3 tahun 8 bulan) dan Figo Maher Pamudji (6 bulan) kepada dokter anak yang sudah dipilih, sebagai orang tua saya juga rajin meng-up date diri. Misalnya, dengan membaca artikel-artikel seputar kesehatan anak. Kebetulan, dokter anak yang menangani anak-anak saya ada 2 orang. Dokter yang pertama, cukup komunikatif dan cukup baik penanganannya. Dokter yang kedua, saya pilih karena prakteknya dekat rumah.

Menurut saya, kita tidak bisa 100% mempercayakan kesehatan anak kita kepada dokter. Tapi sebagai orang tua, kita harus bersikap proaktif. Aktif bertanya mengenai kondisi kesehatan anak kita kepada dokter. Walau pun kenyataannya, tidak semua dokter senang kalau pasiennya proaktif.

Boks 3:
Tia Narissa Fathroen MSc (32 tahun), pengelola sekolah, ibu 2 anak

“Harus komunikatif dan informatif”
Bagi saya, dokter anak yang baik adalah yang komunikatif dan bisa memberikan banyak informasi tentang kondisi kesehatan anak saya kepada saya sebagai orang tuanya. Dokter anak di Amerika yang menangani anak saya, selain memeriksa kesehatan anak saya, dia juga memberi penjelasan terperinci tentang keadaan kesehatannya. Kalau pun kami ‘cerewet’ bertanya soal kesehatan anak kami, dokter tersebut dengan sabar memberi penjelasan panjang lebar sampai kami merasa puas. Jadi, dia betul-betul sangat informatif.

MEMILIH DOKTER ANAK (3)

A friend in need
Dalam artikel “Selecting a Peditrician” di situs www.allaboutmoms.com, Jerold Aronson, MD dan Susan Aronson, MD menyatakan, setiap dokter anak memiliki komitmen untuk menolong dan membantu orang tua dalam membesarkan anaknya agar tumbuh dan berkembang dengan sehat dan bahagia. “Itu sebabnya, seorang dokter anak haruslah dapat menjadi a real friend in need. Atau, teman sejati bagi orang tua anak, di setiap saat!” jelas dr. Wati.
Di lain pihak, seorang dokter anak, di mata si anak, pada awalnya merupakan “makhluk asing” yang menakutkan baginya! Karena dalam pandangan setiap anak, sebagaimana lazimnya, sosok “asing” yang tidak dikenalnya, pasti akan menakutkan.

Untuk mengantisipasi hal ini, dr. Wati yang membentuk suatu grup edukasi bagi orang tua anak bernama “Group Sehat” ini, punya saran jitu buat Anda. “Bila memungkinkan, pilihlah dokter anak yang mau meluangkan waktu untuk lebih mengenal si kecil Anda, dan menjalin ‘kedekatan’ dengannya. Misalnya, dengan berkomunikasi secara lebih intens dengan si kecil. Juga, dokter tersebut memiliki waktu yang cukup leluasa untuk memeriksa si kecil. Mau bersikap sabar dalam menghadapi anak yang ketakutan ketika hendak diperiksa, dan mau menunggu sampai rasa takut si anak hilang. Dokter anak yang memiliki perhatian terhadap psikologi anak, biasanya akan meminta ijin kepada si anak, sebelum dia melakukan pemeriksaan.” Dokter anak yang “baik” adalah dokter yang dapat berteman dengan si kecil, dan juga “diterima” si kecil sebagai temannya!

Lain ladang lain belalang
Pada kenyataannya, mereka yang pernah tinggal di luar negeri akan merasakan adanya perbedaan pelayanan yang diberikan oleh dokter anak di sana dan di sini. Hal ini dialami oleh Ny. Tia yang pernah tinggal di Wisconsin selama 3 tahun. “Dokter anak di sana lebih komunikatif, professional, dan informatif! Juga, lebih mengutamakan kualitas pelayanannya.”

Ny. Tia menuturkan kekecewaannya terhadap kualitas pelayanan dokter anak di sini, yang berbeda dengan pelayanan yang pernah dienyamnya sewaktu tinggal di Amerika. “Ketika kembali ke Indonesia, saya susah sekali menemukan dokter anak yang cocok untuk anak saya. Saya pernah mencoba berobat ke beberapa dokter anak, tapi obat yang diberikan tidak cocok. Belum lagi harus antri berjam-jam. Akhirnya, saya kembali ke dokter anak yang menangani anak saya yang pertama, Dania, sebelum kami ke Amerika. Saya merasa merasa cocok dengan dokter ini karena cukup komunikatif.”

Menanggapi keluhan tentang pelayanan dokter di sini, Dr. Broto Wasisto mengatakan, “Memang harus diakui, mereka yang pernah tinggal di luar negeri akan merasa kaget dengan perbedaan pelayanan dokter yang mencolok dibanding di sana. Di luar negeri, pelayanan dokter memang dilakukan by appointment, yakni sesuai perjanjian jadwal yang telah disepakati bersama. Dan ada ketentuan, dalam satu jam seorang dokter tidak boleh menerima pasien lebih dari sekian orang, sehingga kualitas pelayanan dapat dijaga. Di sini, saya melihat pelayanan by appointment sudah mulai diterapkan di beberapa rumah sakit. Tapi, harus ditunjang dengan persyaratan, satu orang dokter tidak boleh menerima pasien terlalu banyak. Jadi, jumlah pasien harus dibatasi!”
Terlepas dari semua itu, Dr. Broto Wasisto, sekali lagi mengingatkan untuk menghilangkan anggapan bahwa dokter yang laris adalah dokter yang “hebat.” Sebab, pada hakekatnya seorang dokter anak yang “baik” ibarat pepatah a friend in need is a friend indeed. Dokter anak yang selalu siap manakala dibutuhkan itulah “teman atau sahabat yang sejati.”

Sri Lestariningsih
Bahan: Laila Andaryani dan SL
Foto: Dhani Indrianto
Pengarah gaya: Rusmalia B. Salman

MEMILIH DOKTER ANAK (2)

Ketika harus memilih
Bagi Anda pasangan muda yang belum punya pengalaman dalam berurusan dengan dokter anak, mungkin agak sulit dalam menentukan kriteria dalam memilih dokter anak yang “ideal.” Fifi mengaku, dia menentukan dokter anak untuk anaknya yang pertama berdasarkan rekomendasi teman-temannya. “Tapi, saya tetap mencari second opinion atau mencoba dulu seorang dokter anak, lalu dirasakan apakah cocok atau tidak dalam menangani anak saya.”

Hal serupa juga dilakukan oleh Ny. Tia Narissa Fathroen, MSc, saat dia tinggal di Amerika untuk melanjutkan pendidikan, dan melahirkan anaknya yang ke-2, Derya di sana. “Waktu menentukan dokter anak, sebelumnya saya mencari referensi dan bertanya ke teman-teman saya. Terutama siapa saja dokter anak yang memang menjalin kerjasama dengan universitas tempat saya sekolah. Sebab, selama di Amerika, saya otomatis diikutsertakan dalam asuransi kesehatan oleh pihak universitas.”

Ketika ditanya soal kriteria yang digunakan dalam memilih dokter anak, baik Fifi maupun Ny. Tia, sama-sama menempatkan sikap dokter yang komunikatif terhadap pasiennya, sebagai kriteria pada urutan paling atas! Kriteria berikutnya? Bagi Fifi adalah bagaimana dokter anak itu menangani anaknya. Sementara bagi Ny. Tia, kriteria berikutnya yang menjadi pertimbangannya adalah ,”Apakah dokter tersebut mampu memberikan obat yang manjur untuk penyakit yang diderita oleh anak saya.” Kriteria lainnya bagi Tia, “Dokter itu juga harus up to date terhadap berbagai informasi terkini, serta mengikuti kemajuan dan perkembangan teknologi di bidang kedokteran.”
Fifi menambahkan, “Dokter itu juga harus mudah dihubungi setiap saat. Entah lewat e-mail, SMS, atau telepon.” Dia bersyukur bahwa saat ini sudah menemukan dokter anak yang memenuhi kriteria seperti yang diinginkannya. Sementara ketika Ny. Tia ditanya, kalau disuruh memilih, “Wah, saya sih maunya dokter itu selain bertangan dingin juga komunikatif!” jawabnya dengan tegas.

“Jurus” dalam memilih
Lalu bagaimana pendapat dokter anak sendiri terhadap kriteria standar yang dapat dijadikan pedoman untuk memilih dokter anak yang “baik?” Dr. Wati yang menjadi anggota Satuan Tugas imunisasi IDAI sejak tahun 2002, sebagai wakil dari dokter anak memaparkan, ”Panduan praktis dalam memilih dokter anak, pertama adalah kemudahan dalam berkomunikasi! Pilihlah dokter yang sabar dalam memberikan penjelasan secara gamblang. Pertimbangan lainnya adalah, dokter itu dapat dihubungi di luar jam kerjanya, serta berpraktek tidak terlalu jauh dari tempat tinggal Anda. Juga, pilihlah dokter yang tidak mempunyai kebiasaan terburu-buru dalam menulis resep. Yakni, dokter yang memiliki sikap teliti dan cermat serta sungguh-sungguh berusaha dalam mencari penyebab penyakit atau gangguan yang diderita anak Anda.”

Melengkapi pernyataan dr. Wati, Dr. Broto Wasisto yang pernah mengambil Spesialis Epidemiologi di Mahidol University, Bangkok, Thailand tahun 1977 ini memberikan 3 kriteria lainnya yang patut Anda masukan dalam panduan memilih dokter anak untuk si kecil. “Dokter yang baik adalah dokter yang sehat secara fisik, sehat secara mental, dan juga sehat secara sosial!” Juga, “Perlu dipertimbangakan, apakah tempat praktek dokter anak tersebut layak, bersih, tidak pengap, cukup sejuk, dan sehat. Artinya, aerasi dan ventilasi udara di dalam ruangan prakteknya cukup bagus,” tutur dokter yang sejak tahun 2004 hingga sekarang menjabat sebagai anggota Dewan Eksekutif Global Fund ini lagi.

MEMILIH DOKTER ANAK (1)

Catatan:
Artikel utama ini aku tulis belum lama setelah aku menyelesaikan "kelas Tafakur" dan mendapatkan "SARASILAH" atau semacam "sertifikat" yang menunjukkan silsilah garis ILMU TAUHID yang diwariskan secara turun temurun dari Rasulallah, para sahabat Rasul, termasuk ALI BIN ABI THALIB dan istrinya FATIMAH AZ ZAHRA, para WALISONGO, sampai kepada GURU MURSYID-ku...

Artikel ini sebetulnya adalah "gambaran" sekilas tentang pedoman memilih GURU MURSYID yang dalam artikel ini disimbolkan sebagai DOKTER ANAK. Karena, makna kata "anak" dalam kitab-kitab suci, termasuk Al Qur'an, hakekatnya adalah RUH. Siapa yang dapat menolong dan menyembuhkan RUH yang "sakit" karena terpisah dari "sang ayah"? Siapa yang mampu mengobati "penyakit" yang diderita oleh RUH yang terpisah dari TUHAN-nya? Yang biasa disimbolkan sebagai ANAK YATIM dalam Al Qur'an... Tak lain dan tak bukan adalah "DOKTER ANAK" yakni, "dokter" spesialis "ruh" alias GURU MURSYID!

Dari penuturan yang aku peroleh saat wawancara Dr. Broto Wasisto, MPH, aku mendapatkan konfirmasi tentang sejumlah persyaratan yang dimiliki oleh seorang dokter anak yang termasuk dalam kategori yang "baik" dan dapat dipertanggung jawabkan "pelayanan" pengobatannya. Secara hakekat itu berlaku pula sebagai persyaratan yang dimiliki oleh seorang GURU MURSYID. Antara lain, yang dalam hal ini sesuai dengan perjalanan spiritualku saat itu adalah DAPAT MENUNJUKKAN SERTIFIKAT KEANGGOTAAN ORGANISASI IKATAN PROFESINYA, yakni Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Sementara bagi seorang GURU MURSYID SEJATI, dia pun akan mampu menunjukkan SARASILAH KEILMUANNYA yang MURNI, yang diturunkan dari sumber utamanya, yang dalam agama Islam, berasal dari Rasulallah.
Sungguh luar biasa, konfirmasi tentang seluk-beluk ke-GURU-an yang aku peroleh melalui proses pembuatan artikel ini... Dan sebagai bentuk aplikasi pada tataran fisik, artikel ini menguraikan bagaimana memilih dokter anak yang baik... Yang bagiku, adalah bagaimana MEMILIH GURU MURSYID SEJATI... Subhan Allah...



PILIH-PILIH DOKTER ANAK…

Setiap pasangan muda, cepat atau lambat, pasti akan berurusan dengan sosok “dokter anak.” Tapi, apakah dokter anak ini sesuai dengan “kebutuhan” si kecil Anda, juga Anda sebagai orang tua anak?

Memilih dokter anak yang “pas” atau sesuai dengan bayi atau balita Anda, merupakan hal penting yang ikut menentukan proses perkembangan dan pertumbuhan buah hati Anda kelak di kemudian hari. Bahkan, menurut Steven Dowshen, MD, dalam artikelnya “Finding a Doctor for Your Child” mengatakan bahwa dokter anak adalah “partner” orang tua dalam membesarkan anaknya. Pendapat ini didukung oleh dr. Purnamawati S. Pujiarto, SpAK, MMPaed, dokter spesialis anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, yang aktif melakukan advokasi mengenai penggunaan obat-obatan kepada masyarakat, “Dokter anak merupakan mitra orang tua dalam membesarkan dan mengasuh anaknya. Dan kerjasama yang erat dan harmonis di antara orang tua anak dan dokter anak, akan memberikan kepuasan bagi kedua belah pihak!”
Tapi, kapan sebaiknya kita mulai “hunting” dan memilih-milih dokter anak untuk si kecil? Apakah sebelum atau sesudah anak kita lahir?

LEBIH DINI, LEBIH BAIK
Mengingat bahwa dokter anak adalah mitra atau partner Anda berdua dalam membesarkan si kecil, maka dalam menentukan pilihan dokter anak mana yang akan Anda percayakan untuk menangani buah hati, tentu akan dilakukan dengan cukup selektif. “Segala sesuatu yang dipersiapkan terlebih dahulu, tentunya akan lebih baik ketimbang yang tanpa persiapan. Begitu juga dalam memilih dokter anak,” kata dr. Purnamawati, yang mengambil Master in Paediatrics, di University of Melbourne, Australia, dengan sub spesialisasi Hepatologi.

“Oleh karena itu, sebaiknya sebelum anaknya lahir, calon ayah dan ibu sebaiknya sudah mulai mengumpulkan informasi seputar dokter anak, sehingga ketika saat melahirkan tiba, mereka dapat mengajukan kepada pihak rumah sakit tentang keinginannya untuk didampingi oleh dokter anak yang sudah mereka pilih,” lanjut dr. Purnamawati yang akrab dipanggil sebagai dr. Wati. “Menetapkan atau menentukan dokter anak pilihan sebelum anak lahir, itu menunjukkan bahwa calon ayah dan ibu tersebut, memahami tentang pentingnya kesehatan anaknya! Dan memang sebaiknya begitu!” tutur Dr. Broto Wasisto, DTM&H, MPH, Ketua Majelis Kehormatan Etik Kedokteran, PB IDI, Depkes.

Lalu, bagaimana dengan mereka yang tidak sempat melakukan persiapan mencari dokter anak sebelum buah hatinya lahir? Seperti yang dialami oleh Fifi Aleyda Yahya, seorang presenter berita, misalnya. “Waktu melahirkan anak pertama, saya belum ada bayangan mau mencari dokter anak yang seperti apa, selain yang sudah ditunjuk di rumah sakit tempat saya melahirkan.”

Bagi mereka yang belum mengetahui atau belum menentukan siapa dokter anak yang akan dipercayakan untuk menangani anaknya setelah lahir, “Biasanya saat persalinan, otomatis bayinya akan ditangani oleh dokter jaga atau dokter on call hari itu,” jelas dr. Wati. “Sebetulnya, setiap ibu yang akan melahirkan mempunyai hak untuk menunjuk siapa dokter anak yang dia percayakan untuk menangani kesehatan bayinya. Walau pun pada kenyataannya, hal itu tidak serta merta dapat dipenuhi oleh pihak rumah sakit tempat dia bersalin,” Dr. Broto Wasisto menambahkan.